Senin, 25 April 2011

Pengabdian seorang Perempuan

Cerita ini sedikitnya adalah kisah nyata yang kuambil dari kehidupan yang terjadi padaku juga pada temen-temen yang lain.

Mungkin aku dilahirkan sebagai wanita Bali yang harus mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga ketika menikah.Mungkin sebagain besar wanita Bali merasakan seperti yang kurasakan...entah itu karena takdir atau nasib atau apalah aku tidak mengerti.

Ketika wanita Bali memutuskan untuk menikah dengan keturunan Bali (Laki-laki Bali maksudnya) harus mengikuti suami, dalam artian tempat tinggal dan seluruh kehidupan wanita Bali adalah hak suaminya, sehingga terkadang para suami berlaku dominan terhadap pernikahannya.

Seperti artikel dibawah yang saya kutif dari google tentang perempuan Bali

Ketika pilihan itu datang karena itu sudah menjadi arus kehidupan yang harus diterima, perempuan adalah mahluk yang unik karena di balik kelemah-lembutanya sering perempuan di cap mahluk yang lemah atau pun sebutan lain yang kurang lebih berarti ‘sama’ dengan yang diatas, tetapi dibalik itu wanita itu jauh lebih kuat dari seorang Pria yang menjadi pelidung ketika masa berumah tangga tiba. mungkin berapa contoh dapat diambil seperti melahirkan plus mengandung selama 9 bulan . Disini saya ingin mengedepan peran perempuan, dalam hal ini perempuan Bali. Siapa perempuan Bali? karena tidak semua perempuan bali yang tinggal di bali atau gadis bali, karena asal perempuan Bali itu sangat luas karena perempuan Bali bisa datang dari berbagai suku, agama, ras, latar belakang pendidikan dan status. Ketika panggilan itu datang, arus kehidupan yang tidak bisa dielakkan, disini saya tidak menggunakan gadis Bali, karena kata perempuan cenderung lebih dewasa (berumah tangga). Peran perempuan Bali yang sebenarnya di mulai, mungkin sudah banyak di ulas, perempuan Bali dalam kekinian harus pintar-pintar membagi waktu antara arus perubahan jaman, wanita tidak saja menjadi ibu rumah tangga saja tetapi terbuka untuk peran lainya yang tak terbatas. dibalik itu semua perempuan bali harus kembali ke “dapur” dalam arti luas, dapur untuk menyiapakan makanan bagi keluarga dan juga yang utama menyiapkan yadnya (korban suci) sehari-hari. kalau dilihat jenis dan jumlahnya yadnya yang dipersembahkan itu bermacam-macam dengan variasi jenis yang beragam serta kegiatan adat yang lain di lingkungan sosialnya, tentu ini bisa berbagi tugas dengan suami tetapi perempuan Bali lah yang merupakan tokoh sentral dalam hal ini, berat? pengabdian meneruskan keturunan, merawat anak, melayani suami, bekerja,melayani budaya adat istiadat ( yang kesohor sampai di luar negeri), agama dan leluhur. wuih! tambah panjang listnya. seperti perempuan lainnya, Saya percaya perempuan Bali adalah perempuan pilihan yang memiliki energi yang luar biasa, lakukan yang sebaik-baiknya dan menjadikan hidup berarti dalam pegabdian yang tulus,. Ketika arus kehidupan itu datang terimalah dan nikmatilah.

Ketika saya harus membaca sebuah cerita tentang perempuan Bali, ga baca cerita sih karena saya pun mengalami karena saya juga perempuan Bali, miris sebenarnya hati saya…perempuan Bali diharuskan memikul banyak Tugas mulai dari bekerja sebagai wanita karir(istilah keren orang yang bekerja J), sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus anak-anak dengan segala keperluan rumah dan tugas rumah tangga lainnya serta bersosialisasi terhadap lingkungan, adat dan budaya.

Jujur saja, terkadang saya tidak begitu setuju dengan adat dan budaya orang Bali seperti di pedesaan misalnya setiap ada orang menikah, 3 bulanan, otonan, harus membantu (istilah Bali metulungan/medelok’an) itu harus “kata harus” yang terkadang membuat saya tidak habis pikir…kenapa itu tidak dihilangkan atau diperbaharui dengan sesuatu adat yang lebih baik, maksud saya misalnya kita akan membantu sesuai keiklasan hati dalam artian kalo kita sempat kita akan membantu kalopun enggak juga ga apa-apa itu sepertinya akan jauh lebih mengenakkan didengar daripada kata harus. Misalnya diluar negeri tidak harus menikah kan ? kalo itu kebutuhan okelah tidak ada yg melarang….tidak harus harus punya keturunan kan ? itu pernikahan belum lengkap tanpa tawa riang anak-anak bolehlah tapi tidak harus seperti di Bali, dan banyak lagi keharusan yang harus dijalani yang mungkin tidak bisa saya sebut satu persatu….

Wah ternyata banyak juga ya keluh kesah sebagai perempuan Bali…itu dulu aja deh biar tidak terlalu panjang dan ngelantur kesana kesini…..

Cerita ini hanya curahan hati semata….dari perempuan Bali yang merasa di dominasi kaum laki-laki…mungkin ini namanya pengabdian……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar