Suatu hari ada seorang gadis desa pergi ke kota untuk menghadiri wawancara kerja, sebut saja gadis itu bernama Wati, setelah mengikuti beberapa tes penerimaan karyawan baru akhirnya HR manager mengumumkan bahwa Wati diterima kerja di perusahaan swasta di kota, betapa gembiranya hati Wati pada saat itu, tapi setelah beberapa saat kegembiraannya berlalu dia bingung harus tinggal dimana sementara dikota tidak ada siapa-siapa yang ia kenal.tapi akhirnya dia bertemu seseorang yang bekerja diperusahaan yang sama tempat Wati akan bekerja.Waktu ternyata begitu cepat berlalu seiring makin akrabnya Wati dengan beberapa teman-teman kost maupun teman ditempat kerjanya. Hingga suatu hari Wati ketemu dengan seorang cowok temen kantornya.
sebut saja cowok itu bernama "Gama". Gama sangat menyukai Wati. Tetapi Wati adalah gadis desa yang pergi kekota untuk bekerja dan dia selama di desa sekalipun belum pernah namanya pacaran. Perjuangan Gama untuk menyakinkan Wati berujung bahagia, Wati menerima Gama sebagai pacar dan itupun karena temen2 Wati menyakinkan Wati bahwa Gama adalah laki-laki yang baik. Waktu bergulir begitu cepat dan tanpa terasa hubungan Wati sama Gama berlangsung hingga 6 bulan, hingga suatu sore tetangga kost nya Wati kedatangan tamu perempuan, perempuan itu tidak cantik cuman orangnya sangat agresif mungkin karena usianya sudah dewasa atau karena pekerjaannya, sebut saja namanya "Astuti". ternyata Gama diam2 menyimpan rasa dengan Astuti tetapi Wati tidak mengetahuinya, karena kepolosan Wati tersebut akhirnya Astuti sering berkunjung ketetangga kosnya Wati dan disitu Astuti sering bertemu dengan Gama, sampai pada suatu sore Gama menyatakan putus dengan Wati, betapa terkejutnya Wati pada saat itu, tapi Wati hanya mengiyakan, dan ternyata Gama sudah menjalin hubungan dengan Astuti dan setelah beberapa hari Watipun mengetahui kejadian itu. Wati yang merasa dirinya masih muda berjanji dalam dirinya pantang buat menangis karena putus cinta.
Satu bulan berlalu tanpa pacar bukan masalah bagi Wati karena Wati memiliki teman-teman yang sangat menyayangi dirinya, hingga suatu saat muncul laki-laki yang mencoba mendekati Wati, sebut saja "Budi", ternyata Budi itu temannya Gama. Entah Gama yang menyuruh Budi untuk mendekati Wati, Wati tidak tau. Dengan tanpa pikir panjang akhirnya Wati menerima Budi sebagai pacarnya padahal Wati tidak menyukai Budi. Wati hanya ingin ada orang yg menemani hari-harinya buat bercerita dan satu bulan berlalu akhirnya Budi memutuskan Wati. Wati yang sedari awal anti putus cinta diapun tidak merasakan kesedihan, Wati pun menjomblo lagi. Entah karena nasib atau takdir Wati tidak memikirkan, yang penting dia bisa menjaga hatinya tetap bahagia, dia tidak memperdulikan putus cinta.
dalam kesendirian Wati yang tanpa pacar, akhirnya Wati kedatangan teman baru di kantornya, sebut saja "Sari". Sari itu lebih tua dari Wati yang tentu jiwanya pun lebih dewasa. Dari Sari lah Wati mengenal internet, persahabatan sejati dan kasih sayang. Buat Wati, Sari itu adalah kakak yang baik, inspirasi bagi kehidupannya. Sari itu memiliki teman namanya Trisno, yang akhirnya jadi teman Wati juga. Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya Sari merasa karirnya tidak beranjak dan dia memutuskan keluar dari pekerjaan dan mau melanjutkan studynya. Disitulah Wati merasa kesepian, merasa kehilangan kakak sekaligus sahabat yang membimbing juga mengisi hari-hari Wati saat jomblo.
Wati yang gadis simple nan riang pantang buat merasakan kesedihan lama....dan pada saat itu pula Trisno tau bahwa Wati sendirian sementara teman2 kostnya udah pada sibuk dengan pasangan masing2. Sejak saat itu Wati makin dekat dengan Trisno. Setiap Trisno ada acara dirumahnya dia pasti mengundang Wati buat makan-makan. maklum Wati adalah anak kost. Wati pun tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan makanan gratis, Wati selalu mengajak teman2 kostnya yang lagi tidak pacaran buat nemenin Wati makan gratis dirumahnya Trisno. Teman kost Wati yang selalu mendapatkan cipratan rejeki makan gratis adalah Asih. dengan seringnya Asih diajak kerumah Trisno oleh Wati.
Asih bertanya sama Wati :" kenapa Trisno begitu baik sama kamu dengan sering mengundang makan dirumahnya?".
Pertanyaan Asih membuat Wati ketawa.....(hahahaha)
Wati berkata " Asih kamu ga perlu memusingkan kebaikan orang, yang penting kita punya perut kenyang setiap hari dan uang hasil kerja bisa disimpan kamu ga perlu pusing".
Akhirnya Asih pun mengangguk dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, Asih selalu berpikir apakah Wati sudah gila? dan Wati pun sebenarnya tau apa yang selalu di pikirin Asih setiap diajak makan-makan kerumah Trisno. Hingga suatu sore pada saat diundang makan oleh Trisno.
Asih pun bertanya lagi pada Wati : "Ti,kamu yakin hanya berteman pada Trisno?".
Wati pun kembali tertawa mendengar pertanyaan Asih temannya.
dan Wati berkata "Sih- Asih kamu tuh ga usah bingung segitunya, aku ama Trisno ga ada hubungan apa-apa hanya teman saja, lihat saja gayaku kalo makan biasa naruh kaki diatas sofanya, Emang Trisno suka cewek sepertiku tampang cuek begini?".
Asih yang tau jiwa Wati emang cuek semakin bingung dengan sikapnya Wati, sementara dihati Asih selalu bertanya tidak mungkin Trisno yang begitu baik pada Wati tidak menyimpan rasa apapun pada Wati. Dan apa yang dipusingkan Asih tentang Wati ternyata benar, diam-diam Trisno menyimpan rasa pada Wati, Selama ini Trisno baik sama Wati disamping karena mereka berteman tapi Trisno juga menyukai Wati. Tanpa berpikir panjang saat Trisno mengungkapkan perasaannya pada Wati, Wati langsung mengiyakan karena Wati pikir berteman atau pacaran ama Trisno sama saja. Toh tidak mengurangi rasa persahabatan diantara mereka, semua cerita pribadi Trisno udah diketahui Wati begitu juga sebaliknya karena mereka saat bersahabat sangat dekat sampai masalah sekecil apapun udah sama2 tau begitu pikir Wati saat menerima cinta Trisno. Dan emang benar apa yang dipikir Wati tentang Trisno tidak berubah layaknya orang pacaran, mereka tetap seperti sahabat, tidak ada acara pegang tangan, cium atau pun apel malam minggu. Wati hanya selalu disuruh kerumahnya Trisno kalo ada makanan, dan acara Wati untuk selalu datang dan menghabiskan makananpun tak berubah. Beberapa bulan setelah Wati dan Trisno jadian, akhirnya Trisno di wisuda S1, suatu kebanggaan yang luar biasa bagi Trisno bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan nilai yang memuaskan. Wati pun merasakan kebahagiaan sahabat yang sekaligus pacarnya, dan Wati pun diminta untuk menemani saat acara wisuda. Setelah wisuda S1 Trisno melanjutnya kuliahnya disitulah mulai terjadi permasalahan diantara Trisno dan Wati. Trisno tidak hanya melanjutkan kuliahnya tapi dia juga bekerja sebagai pengajar di beberapa sekolah swasta bahkan ada mengajar dikampus diploma serta sebagai pengajar privat. Trisno yang ambisius terhadap karirnya mulai mementingkan dirinya sendiri dia berangkat dari rumah jam 6 pagi dan kembali kerumahnya jam 12 malam dan tidak ada sabtu atau minggu sebagai hari libur, semua hari untuk belajar dan bekerja. Wati tau apa yang di impikan Trisno, menjadi orang hebat yang punya karir bagus dan uang banyak, berbeda dengan Wati, wanita sederhana yang memerlukan perhatian, pengertian serta cinta yang tulus. Bertahun2 Wati melewatkan hari tanpa Trisno, Trisno hanya menyuruh Wati kerumahnya jika kesepian, Trisno selalu bilang "carilah ibuku untuk berbagi cerita, karena ibuku juga ga punya teman berbagi cerita". itu lah kata yang selalu diungkapkan Trisno kepada Wati saat dia sadar telah mentelantarkan pacarnya. Bertahun2 Wati lalui hari seperti itu, bercerita pada ibunya begitu juga ibunya sering cerita ke Wati tentang keseharian ibunya Trisno. Bapaknya juga sama sibuk mengajar, Bapaknya sebagai kepala sekolah teladan jadi dia lebih sayang murid-muridnya dari keluarga tapi mungkin ga begitu juga kali karena dia dirumah tidak ada teman bercerita atau tidak ada kegiatan jadi kedua orangtuanya sibuk menenggelamkan diri dengan kerjaan masing-masing. Hingga suatu hari Wati diajak bicara serius dengan ibu dan bapaknya Trisno.
Ibunya Trisno berkata kepada Wati : berapa umurmu sekarang?, Wati yang saat itu baru berusia 22 tahun menjawab dengan santainya, ibunya melanjutkan dulu ibu waktu usia segitu udah menikah. Wajah Wwati langsung memerah dan ga tau harus menjawab apalagi, ibunya Trisno melanjutkan pembicaraannya tanpa memperhatikan expresi wajahnya Wati saat itu, ibu ingin sekali Wati berada dirumah ini, ibu sudah menganggap Wati seperti anak sendiri. Ibu malah merasa nak Wati anak ibu bukan Trisno, karena Trisno tidak pernah punya waktu dirumah. Entah ibunya merasa kesepian atau karena ibunya Trisno lebih sering ketemu Wati mengatakan seperti itu, dan Watipun tidak menjawab pertanyaan ibu Trisno. Wati hanya tersenyum dan melanjutkan pembicaraan ke arah lain, tapi bathin Wati bergejolak, disatu sisi Wati emang ingin menikah dengan Trisno tapi di satu sisi Wati juga sadar dengan ambisi Trisno.
Waktu trus berlalu hingga satu persatu teman Wati menikah dan akhirnya Wati kembali di dera perasaan kesepian juga pertanyaan dalam dirinya, akan kemanakah hubungan kulanjutkan sementara Trisno semakin hari semakin sibuk dengan kegiatannya. Akhirnya atas saran temannya Wati memberanikan diri untuk bertanya pada Trisno akan dikemanakan hubungannya. Watipun mengambil handphone dan mengontak Trisno minta ketemu dan seperti jawaban sebelum2nya yang dia dapatkan dari Trisno
"kalo kamu butuh teman cerita kerumah aja, ibuku ada dirumah". dengan yakin Wati bilang tidak, aku tidak bisa bercerita dengan ibumu untuk kali ini, ini tentang aku dan kamu, kamu ada dimana? dan dimana bisa aku temui akan kutemui kamu disana meskipun kamu ada dikampus aku akan datang, aku hanya butuh waktu 5 menit buat bicara ma kamu, begitulah Wati berujar.
Akhirnya Trisno menjawab : ok, tunggu aku ditempat makan deket kampus.
Dan pada hari, waktu dan tempat yang ditentukan Wati menemui Trisno. saat Trisno menyapa Wati, dengan sigap Wati memberikan Trisno pertanyaan. pertanyaan pertama, mau dikemakan hubungan kita, mau lanjut atau berhenti disini atau kita kembali menjadi sahabat yang tidak saling menuntut seperti dulu ? Trisno tampak bingung dengan pertanyaan Wati yang tidak ada angin dan hujan tiba2 bertanya seserius itu, karena Trisno ga mengeluarkan kata sepatahpun akhirnya Wati membuat keputusan sendiri, "ok, sepertinya persepsi tentang kehidupan yang kita jalani telah berbeda, aku hanya butuh waktu, perhatian, pengertian dan cinta yang tulus dari mu. aku ga membutuhkan materi yang berlimpah. sementara kamu hanya mengejar materi atau karir, Trisno makin bingung dengan ucapan Wati yang tanpa jeda memberikan pilihan. Dan kesimpulannya Wati memutuskan hubungannya dengan Trisno. Tanpa menoleh kebelakang lagi Wati meninggalkan Trisno dan langsung mengambil motornya dan melarikannya dengan kencangnya menuju kostnya. Wati berharap pada sore itu menjadi hari terakhir dalam hidupnya, tapi entah karena takdir Wati selamat sampai di kost dan dia baru berpikir kenapa aku berbuat gila seperti itu ya? kalau beneran mati wah ibuku bisa sedih. Dan Wati akhirnya ga jadi menuju kost dia mengarahkan motornya kerumah temannya, akhirnya wati bercerita pada temannya bahwa barusan dia baru memutuskan Trisno dan berharap jadi hari terakhir dalam hidupnya Wati. Temannya yang tau sifat Wati pantang buat bersedih akhirnya mentertawakan kelakuan Wati....dan akhirnya Wati pun ikut tertawa mentertawakan dirinya sendiri. Keesokan harinya Wati sudah tersenyum dan melupakan kisah cintanya dengan Trisno.
Wati menjalani hari-harinya menjadi jomblo lagi, hingga suatu saat seorang temannya Wati mengenalkan laki-laki sebuat saja "Andi". Andi adalah sosok pria periang, sangat perhatian dan pengertian begitulah penilain Wati pada Andi saat pertama bertemu. Hari berganti begitu cepat hingga suatu hari Andi memberanikan diri menunggkapkan perasaannya pada Wati, dan Wati berpikir, dulu aku kehilangan pacar yang cuek dan ketemu yang super perhatian, Wati pikir terima sajalah.
Seiring berjalannya waktu ternyata Andi berubah menjadi sosok pria posesif dan sangat pencemburu, hingga apapun yang dilakukan Wati harus seijin Andi, dan Wati dilarang berteman dengan pria dengan alasan teman pria Wati menaruh hati pada Wati. Lama kelaman Wati dibuat pusing juga dengan ulah Andi, dan banyak teman2 pria Wati komplin ke Wati karena punya pacar yang menteror sahabat2nya dengan sms menyakitkan dan mengancam. Dan akhirnya Wati pun memutuskan Andi dengan terpaksa supaya dia bebas menentukan hidup, bersahabat dengan siapapun, jalan2 dengan siapapun.
Wati sendiri lagi tapi bukan berarti sendiri yang sesungguhnya karena Wati punya banyak teman pria maupun wanita. Hingga akhirnya dia ketemu teman perempuan yang ternyata punya kisah cinta seperti Wati sama sama tidak sukses dalam percintaan, sebut saja namanya Dwi. Akhirnya Wati dan Dwi sama2 mencari pria pujaan. Berbulan-bulan Wati dan Dwi mencari pria pujaan yang tak kunjung datang, Wati dan Dwi pun menyibukkan diri dengan belanja, jalan-jalan, kesalon...maklum 2 sahabat ini memiliki kebiasaan yang sama. Hingga akhirnya Wati bertemu pria pujaannya dan sekian bulan menjalin cinta dan akhirnya hubungan Wati berujung bahagia dipelaminan, begitu juga Dwi akhirnya ketemu pria pujaan dan berujung bahagia di pelaminan.
Semoga Wati berbahagia dengan Pangeran impiannya!
TAMAT